
Peta Dunia Baru: Prancis Ganti Proyeksi Mercator dengan Eckert IV
Prancis Luncurkan Inisiatif Peta Dunia yang Lebih Akurat
Peta dunia kini akan berubah di Prancis setelah kementerian luar negeri memutuskan meninggalkan proyeksi Mercator. Keputusan ini diambil karena proyeksi klasik tersebut dianggap menyesatkan, terutama dalam menampilkan ukuran benua Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara.
Latar Belakang Proyeksi Mercator
Sejak abad ke-16, peta Mercator menjadi standar dalam buku pelajaran, atlas, dan aplikasi navigasi. Namun, sifatnya yang memperbesar wilayah kutub dan mengecilkan daerah khatulistiwa membuat representasi geografis menjadi tidak proporsional. Benua Afrika, yang secara faktual menempati hampir satu perempat permukaan bumi, tampak menyusut drastis, sementara Greenland dan wilayah utara Rusia tampak meluas tanpa batas.
Keputusan Menlu Prancis Jean Noel Barrot
Menurut Menlu Prancis Jean Noel Barrot, "Peta tak pernah sepenuhnya netral. Ambil contoh proyeksi Mercator, peta yang kita semua kenal sejak kecil. Wilayah yang kita lihat di sana tak sesuai luas aslinya. Amerika Serikat, Rusia, dan China mengambil porsi visual tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," ia menegaskan bahwa sudah saatnya memperbaiki cara dunia dipandang melalui peta warisan para navigator Barat abad ke-16.
Barrot menambahkan bahwa kementeriannya akan beralih ke proyeksi Eckert IV, sebuah sistem yang dirancang pada tahun 1906 dan lebih menyeimbangkan proporsi benua. "Dengan Eckert IV, ukuran Prancis akan tampak lebih kecil dibandingkan negara-negara yang berada dekat ekuator, sama halnya dengan Amerika Serikat atau Rusia," jelasnya.
Proyeksi Eckert IV vs. Equal Earth
Walaupun Prancis memilih Eckert IV, keputusan tersebut sejalan dengan gerakan global yang didorong oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 2023, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi non‑mengikat berjudul "Correcting the map" yang mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth, model yang dikembangkan pada 2018 dengan tujuan menampilkan ukuran benua secara lebih realistis.
Equal Earth dan Eckert IV memiliki kesamaan dalam menyeimbangkan luas daratan, namun keduanya berbeda dalam cara menggambarkan lekukan dan detail geografis. Kedua proyeksi tersebut menawarkan alternatif yang lebih adil dibandingkan Mercator, terutama bagi negara‑negara di zona tropis.
Implementasi Bertahap di Lingkungan Diplomatik
Sejak 2021, kementerian luar negeri Prancis mulai mengurangi penggunaan peta Mercator pada situs‑situs diplomasi publik. Proses penghapusan dilakukan secara bertahap, memastikan bahwa materi‑materi penting tetap dapat diakses tanpa mengorbankan akurasi visual.
Para diplomat mengakui bahwa Mercator masih relevan dalam konteks tertentu, misalnya untuk peta navigasi maritim atau aplikasi regional di sekitar zona khatulistiwa. "Kami tidak menolak sepenuhnya kegunaan Mercator, tetapi kami ingin menyeimbangkan penggunaannya dengan proyeksi yang lebih representatif," ujar seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri.
Dukungan Internasional dan Penolakan Amerika Serikat
Resolusi PBB tersebut memperoleh dukungan dari 164 negara anggota, termasuk Uni Afrika yang mengadopsi Equal Earth pada Maret 2023. Hanya Amerika Serikat yang menolak, menyebut inisiatif tersebut sebagai "proyek ideologis radikal". Enam negara—Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina—memilih abstain.
PBB menegaskan bahwa resolusi tidak melarang penggunaan peta Mercator dan tidak memaksa adopsi satu jenis peta tunggal. Sebaliknya, organisasi tersebut mengajak pemerintah, lembaga pendidikan, dan perusahaan teknologi untuk mempertimbangkan proyeksi yang lebih setara dalam menampilkan ukuran benua.
Pengaruh pada Sistem Pendidikan di Prancis
Di sekolah‑sekolah Prancis, mayoritas buku pelajaran masih menampilkan peta dunia berbasis Mercator. Namun, perubahan kebijakan ini membuka peluang bagi guru‑guru untuk memperkenalkan alternatif yang lebih akurat. "Anda bisa temukan proyeksi Eckert atau Peters di beberapa buku pelajaran, tapi sangat langka," kata Gregory, guru sejarah dan geografi di Rennes, menyoroti keterbatasan materi yang tersedia saat ini.
Gregory berharap bahwa dengan dukungan kementerian, lebih banyak sumber belajar akan mengadopsi proyeksi baru, sehingga generasi muda dapat memahami realitas geografis dunia tanpa bias visual.
Implikasi bagi Platform Digital
Walaupun pemerintah Prancis beralih ke Eckert IV, platform digital seperti Google Maps masih menggunakan varian proyeksi Mercator karena kompatibilitas teknis dan kebiasaan pengguna. Namun, perubahan kebijakan ini dapat mendorong penyedia layanan peta untuk menambahkan opsi tampilan alternatif, memberi pengguna pilihan antara akurasi geografis dan familiaritas visual.
Kesimpulan: Menuju Representasi Geografis yang Lebih Adil
Langkah Prancis mengganti peta dunia menandai titik balik dalam upaya global memperbaiki representasi geografis. Dengan mengadopsi proyeksi Eckert IV, negara tersebut tidak hanya menyesuaikan diri dengan rekomendasi PBB, tetapi juga mengirim pesan kuat bahwa peta harus mencerminkan realitas, bukan persepsi kolonial lama.
Jika lebih banyak negara mengikuti jejak ini, peta dunia di masa depan akan menampilkan Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara dengan proporsi yang layak, mengurangi distorsi visual yang selama ini menguntungkan negara‑negara beriklim sedang. Perubahan ini sekaligus mengajak masyarakat umum untuk lebih kritis terhadap gambar peta yang selama ini dianggap "netral".